Pagi hari ketika kubuka jendela, pemandangan yang pertamakali menyapa mataku adalah hamparan gunung abu-abu kebiruan. Siluetnya melekuk indah, mengitariku. Angin dingin pagi hari masih kurasakan. Dinginnya datang menusuk, seketika membuat rambut halus yang menutupi lenganku berdiri tegak. Kaget oleh ucapan selamat pagi yang sedemikian awal.
Aku mencium udara basah. Embun masih asyik hinggap di sana-sini, meninggalkan jejak-jejak bulir air di kaca jendelaku. Di ufuk, perlahan cahaya berwarna keemasan dan benderang mengintip dari balik balutan awan kapas putih. Cahayanya terpantul oleh embun kepada daun, terpantul oleh daun kepada kumbang, terpantul oleh kumbang kepada kelopak bunga, terpantul oleh kelopak bunga kepada tanah, terpantul oleh tanah kepada jendela, terpantul oleh jendela ke wajahku, dan aku memantulkannya kembali cahayanya kepada Sang Cahaya. Kuresap hangatnya dan kusimpan rapat dalam pori-pori ku. Hangat. Kubuka mataku lebar untuk menangkap semua pantulan magis itu, dan kuletakkan di dalam kepalaku, untuk kubuka jika aku sedang sendu.
Sebagai tanda terimakasih, kulemparkan senyuman. Lalu kuucapkan lirih….
Selamat pagi….
Recent Comments