Udang ku Sayang, Mangrove ku Malang

2 thoughts on “Udang ku Sayang, Mangrove ku Malang”

  1. Sangat menarik pemikiran yang dikemukakan oleh Riza dan proses yang telah dilakukan oleh rekan – rekan WALHI patut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak (stakeholder) di bidang perikanan. Kenyataan yang terjadi di lapang menunjukkan sebuah kecenderungan peningkatan kebutuhan konsumsi udang yang akhirnya memaksa pembudidaya udang untuk semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan pasar. Hal tersebut akhirnya menjadi majority factor kerusakan hutan mangrove.

    Solusi atas permasalahan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan kembali pada pola budidaya tradisional namun juga menyelesaikan dampak sosial ekonomi yang kemungkinan akan timbul. Saya berpendapat bahwa lahan hutan mangrove yang sudah terlanjur dipergunakan sebagai tambak bisa dilanjutkan karena kawasan tersebut sudah tidak lagi reprsentatif untuk lahan konservasi. Namun akan lebih baik jika timbul kesadaran dari petambak untuk meremajakan hutan mangrove di sekitar tambak sebagai penyeimbang. Sedangkan hutan mangrove yang masih memiliki potensi keanekaragaman hayati tinggi harus mendapatkan perlindungan secara maksimal guna mempertahankan kelestarian hutan mangrove dan keanekaragaman di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s